Jakarta Jadi Panggung Seruan Damai Dunia, Para Imam Besar Lahirkan “Jakarta Understanding”, Nasaruddin Umar Terpilih sebagai President IAMI
Super Admin
Diperbarui 29 September 2026, 01:49
Jakarta, informia.id — Jakarta menjadi ruang pertemuan para Imam Besar dari berbagai negara dalam International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 . Konferensi tersebut menghasilkan sebuah dokumen bersama bertajuk “Jakarta Understanding: On Mosque Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace”, yang memuat pesan dan komitmen bersama mengenai perdamaian, diplomasi keagamaan, kemanusiaan dan masa depan dunia. (27/09/2026)
Dalam momentum tersebut, Grand Imam Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA , terpilih sebagai President International Assembly of Mosque Imams (IAMI).
Terpilihnya Nasaruddin Umar menandai penguatan peran Indonesia dalam membangun jejaring kepemimpinan imam masjid di tingkat internasional. Posisi tersebut juga menjadi bagian dari momentum yang lahir dalam pertemuan para Imam Besar dunia di Jakarta.
Pada kesempatan yang sama, Jakarta Understanding dibacakan oleh Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA , bersama para Imam Besar yang hadir dalam konferensi. Dalam dokumen tersebut, para Imam Besar menyampaikan pesan kepada masyarakat dunia bahwa perdamaian merupakan tanggung jawab bersama umat manusia, masjid dapat menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan, dan diplomasi keagamaan dapat memperkuat hubungan antarbangsa.

Tujuh Komitmen Jakarta Understanding
Jakarta Understanding memuat tujuh seruan utama kepada para imam masjid di berbagai belahan dunia.
Pertama, memperkuat peran strategis imam masjid. Imam tidak hanya berperan sebagai pemimpin ibadah, tetapi juga sebagai mediator konflik, pemersatu keberagaman dan penuntun moral masyarakat. Masjid didorong menjadi ruang komunitas yang terbuka, inklusif dan berorientasi pada kemanusiaan serta peradaban.
Kedua, menjadi agen perdamaian dunia. Para imam didorong untuk menjaga martabat manusia tanpa memandang latar belakang etnis, agama, bangsa maupun gender, sekaligus memperkuat pendidikan karakter, moderasi, toleransi, kasih sayang, penghormatan terhadap perbedaan dan literasi digital.
Ketiga, memperjuangkan keadilan sosial dan perlindungan hak-hak kemanusiaan, termasuk menciptakan lingkungan yang aman, adil dan ramah bagi anak, perempuan, penyandang disabilitas, kelompok minoritas dan kelompok rentan lainnya.
Keempat, menguatkan diplomasi keagamaan dan dialog lintas iman untuk mencegah konflik, membangun kepercayaan dan memperkuat rekonsiliasi global. Para imam juga didorong berada di garis depan dalam menolak ekstremisme, kekerasan, penyalahgunaan agama, hoaks dan ujaran kebencian.
Kelima, membangun kesadaran ekoteologis. Para Imam Besar menegaskan komitmen untuk menjaga keseimbangan alam, menghentikan kerusakan lingkungan dan mendorong masjid serta komunitas keagamaan menjadi pelopor keberlanjutan bumi bagi generasi mendatang.
Keenam, memperkuat kolaborasi global dengan lembaga internasional, pemerintah dan masyarakat sipil untuk mewujudkan dunia yang adil, bermartabat dan damai bagi seluruh umat manusia.
Ketujuh, menegaskan dukungan terhadap hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri, perlindungan warga sipil, penghormatan terhadap hukum internasional serta terwujudnya kemerdekaan, keadilan, perdamaian dan martabat yang berkelanjutan bagi Palestina.
Indonesia dan Diplomasi Keagamaan Global
Konferensi ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat kontribusinya dalam diplomasi keagamaan di tingkat global. Jakarta Understanding menempatkan masjid dan imam bukan hanya sebagai bagian dari kehidupan keagamaan, tetapi juga sebagai aktor yang dapat berkontribusi dalam membangun perdamaian, mencegah konflik, memperkuat dialog lintas iman dan merawat kehidupan bersama.
Dalam penyelenggaraan IGIC 2026, Irjen. Pol. Dr. H. M. Sabilul Alif, S.H., S.I.K., M.Si bertindak sebagai Ketua Steering Committee (SC), sementara H. Farid F Saenong, Ph.D sebagai Ketua Organizing Committee (OC).
Dengan hadirnya para Imam Besar dari lebih dari 40 negara, forum tersebut mempertemukan berbagai perspektif kepemimpinan keagamaan dalam membahas tantangan perdamaian, kemanusiaan, keberagaman, lingkungan dan masa depan masyarakat global.
Melalui Jakarta Understanding, Jakarta tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya konferensi, tetapi juga menjadi ruang lahirnya pesan bersama para Imam Besar dunia untuk memperkuat perdamaian dan kemanusiaan.
Dokumen Jakarta Understanding ditetapkan di Jakarta, Indonesia, pada 27 September 2026.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!