Refleksi Intelektual: Ketika Pendidik Kehilangan Kompas Etika.
adi wijaya
Diperbarui 15 September 2026, 14:13
Kabupaten Tangerang, informia.id Sekolah semestinya menjadi sanctuary of knowledge—sebuah zona aman yang menyemai nilai-nilai keluhuran budi, karakter, dan nalar kritis anak-anak bangsa.
Namun, ketika ruang suci tersebut dikotori oleh pengkhianatan moral dari mereka yang digugu dan ditiru, maka yang runtuh bukan sekadar kredibilitas institusi lokal, melainkan masa depan psikologis anak didik yang menjadi korban.
Sebagaimana disuarakan dalam berbagai platform diskursus publik dan media sosial, kemarahan masyarakat terhadap tindakan bejat oknum pendidik ini adalah bentuk pertahanan kolektif terhadap masa depan generasi muda.
Pendidikan karakter tidak akan pernah berhasil jika keteladanan dari seorang pendidik justru berbalik menjadi ancaman psikologis bagi peserta didiknya.
"Pendidikan yang sejati tidak hanya mencetak kecerdasan intelektual, tetapi yang paling utama adalah membangun integritas moral dan keluhuran budi pekerti."
Kasus ini harus menjadi titik balik (turning point) bagi reformasi moral dunia pendidikan Indonesia.
Jangan sampai masa depan generasi bangsa dikorbankan oleh kebejatan segelintir oknum yang mengkhianati profesi mulia guru.
Penulis : Riki Ade Suryana
Komentar (1)
Riki Ade Suryana Redaksi
1 hour agoPaten Kaliii.
Berita Terkait
Pendidikan
FORMATUR dan KKN Pradipta Kelompok 12 Global Institute, Edukasi Pelajar Al-Azhariyah Tentang Bahaya Penyalahgunaan Narkoba.
4 hours ago
Nasional
Dalam Kegiatan Zikir Kebangsaan, Ketua MPR Ahmad Muzani Berdoa agar Indonesia Tetap Utuh dan Bersatu.
1 month ago
Nasional
Sambut HUT RI Ke-81, Menag Nasaruddin Umar Pimpin Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas Jakarta
1 month ago